
air mataku menitis lagi,
mengenang cerita cinta misteri,
yang singgah kemudian pergi,
biar segumpal hati ini berdarah suci,
ku serahkan jua cinta bersama harapan yang tinggi...
ku renung tingginya langit,
luas cakerawala tanpa batas,
namun terasa sempitnya ruang ku melangkah,
terkurung oleh satu tembok yang telah menghimpitku,
degup jantungku memberontak sesak,
waktu...segeralah berlalu,
cepatlah tahun berganti lalu,
berpusing,
sudahkan cerita ini di sini,
biar titik akhirnya tergantung tanpa penghujung...

apakah salahnya gelombang,
jika tiba-tiba kita goyah dan karam di lautan?
bukan angkara taufan atau jua hujan,
hanya mungkin kerana kemudi yang tidak berhaluan,
bisakah kita untuk kembali berenang,
mengharung gelora yang sentiasa memukul,
atau mungkin jua kita kan terus tenggelam,
jatuh ke dasar laut,
yang akhirnya kaku dan beku..
di sini takkan bisaku melihat lagi,
nikmat pelangi mewarnai nurani,
hanya terliur menjamah matahari,
kerana jauhku terpuruk di dasar lautan biru,
setelah karam membawa cinta sejati,
setelah tenggelam di bawa arus dusta,
kini telah ketawa melihat aku terdakap dalam lara….
telah terkoyak hatiku menerima luka,
remuk tubuhku kini berkabung dalam sedih dan pedih…
keranaku hanya seorang manusia,
yang harus menerima apa jua ada dan tiada….
takdir dan ketentuan-Nya…

musim hujan yang terlambat,
saat awan berkumpul gelap,
berlari kita mencari perteduhan,
saat hari mulai kelam,
kita berjalan di titian,
meniti satu persatu sisa harapan,
kemudian kita berlari setengah jalan...
waktu telah memacu kita,
memperlihatkan percikan jingga di langit,
menjernihkan rintik-rintik hujan yang gugur,
hati ini telah berharap,
masih akan tetap berharap,
hingga tiada lagi suara untuk berteriak,
bahawa kita akan melintasi dan mendiami,
satu rasa yang lebih dari hanya bahagia...
saatku belajar mengenalmu,
sebenarnya membawaku mengenali diriku,
yang dahulu pernah terjatuh, lumpuh dan buta,
oleh kenangan yang terbiasa....
Kan telah tiada,
detik indah memugar cerita harmoni,
di bawah bintang-bintang,
di tika malam datang dan menyusun mimpi,
deru angin membawa derita sekali lagi...
jauh melangkah tidak memberi erti,
teguh dan kukuh rasa hanya buruan ilusi,
bergerak dan menyusup pergi,
hingga kelam mengorak arah sendiri,
dan kini tersungkur di jalan yang mati...
cinta,
hanyalah untuk sang arjuna dan ratna,
hanyalah untuk adam dan juga hawa,
untukku hanya sebuah angan-angan dari syurga....
ku tepuk belakang badannya perlahan,
bertanya di mana buku,
Razainal senyum tanpa jawapan...
Ku bertanya lagi pada Razainal,
mengapa belum bisa memiliki buku,
Razainal menjawab sambil ketawa,
mengenyit mata tiada wang katanya..
Ku katakan pada Razainal,
belilah buku untuk menimba ilmu,
pasti wang bisa dapat dari ibu,
gantinya nanti bila sudah berjaya,
apabila sudah bekerja selesa...
Razainal menjawab dia hanya punya ibu,
tiada ayah, dia bekerja selalu,
ku berikan kertas putih dan kosong,
kataku salinkan nota, tampal bila ada buku baru...
Sebelum keluar, Razainal datang padaku,
mengucapkan terima kasih dan mohon berlalu,
mengukir senyuman bertalu-talu,
seakan punya maksud tertentu,
bisiknya padaku 'cikgu, belikan saya buku'...
Pagi Isnin mulai mendatang, ku terima khabar malang,
Razainal telah pulang ke sisi Tuhan Maha Penyayang,
Senyuman Razainal di Pagi Jumaat lalu adalah senyum terakhir,
tulus dan mulus mengalun tenang...
Razainal, pelajar ku tersayang,
tiada yang berbeda semuanya ku sayang,
Doaku semoga roh Razainal tenang,
Biar ini sebuah pemergian yang tidak diundang,
takdir Tuhan takkan bisa dihalang...
Petang isnin ku menemui ibu Razainal,
ku tenangkan hatinya yang bergelombang kencang,
perginya anak sulung tersayang,
tempat ayah diganti mencari rezeki,
untuk adik-adik yang disayangi,
kasihan remaja ini....
hatiku tersentuh hiba mengalir air mata...
Razainal,
cikgu sayang kamu....
Puisi ini ku tujukan untuk Razainal, pelajarku dari kelas 4 Putra, SMK Taman Selayang yang telah pulang ke Rahmatullah pada 16 Februari 2009. Al-Fatihah.









